08 Juni 2011

Taktik Tangan Kosong: Melawan Musuh Bersenjata Tombak



Tombak memiliki karakteristik istimewa dibanding senjata tradisional lainnya. Kelebihannya ada pada jangkauannya yang panjang. Oleh karena itu, tombak relatif sulit untuk didekati.

Umumnya ada 3 macam serangan dengan tombak. Pertama, tusukan, Kedua, pukulan. Ketiga, sabetan.

Apapun bentuk serangannya, Anda bisa dengan mudah mengalahkan lawan bersenjata tombak bila Anda mengetahui kelemahannya. Kelemahan ada pada pegangan tombak. Bila Anda berhasil memegang tombak pada pegangannya, Anda sudah setengah menang.

Menghadapi tusukan, menyingkirlah dulu ke samping kemudian baru memegang tombak. Peganglah dengan satu tangan di depan tangan lawan dan satu tangan di antara kedua tangan lawan. Atau bila tombak lawan panjang, pegang dengan dua tangan di depan tangan lawan.

Menghadapi pukulan atau sabetan, Anda melangkah maju mendahului serangan sambil menangkap pegangan tombak. Bila kebetulan jarak Anda terlalu jauh, Anda dapat menyingkir dulu ke samping atau ke belakang. Kemudian bila sempat memegang pegangan tombak. Bila tidak sempat, Anda bisa menunggu serangan selanjutnya.

Sesudah Anda berhasil memegang tombak, selanjutnya Anda dapat menerapkan teknik rampasan. Contoh teknik rampasan bisa Anda lihat pada video di atas. Atau Anda bisa pula menerapkan bantingan dorong dengan cara menekankan pegangan tombak pada leher lawan sekaligus mengait kakinya. Sesudah lawan jatuh, Anda dengan mudah merampas tombak lawan.

Demikianlah teknik untuk mengatasi lawan bersenjata tombak. Mudah-mudahan ada gunanya bagi para pecinta bela diri.

29 Mei 2011

Taktik Tangan Kosong: Melawan Musuh Bersenjata Pedang Katana



Pedang Katana adalah sejenis pedang tradisional Jepang. Pedang ini digunakan untuk keperluan berperang oleh samurai pada zaman Jepang Kuno. Di Indonesia, pedang ini sering disebut "Pedang Samurai". Suatu salah kaprah, karena samurai bukanlah nama pedang melainkan sebutan untuk prajurit satria yang mengabdi untuk raja-raja zaman feodal Jepang.

Keunikan pedang Katana dari sudut pandang ilmu bela diri ada pada teknik memegangnya. Pedang ini biasanya dipegang dengan dua tangan, walaupun memang ada aliran yang memegangnya dengan satu tangan saja. Hal ini menyebabkan melawan musuh bersenjata pedang ini lebih sulit daripada musuh bersenjata pedang biasa, karena ada dua tangan yang mesti "diuraikan" ketika melucutinya.

Langkah pertama yang harus Anda jalankan adalah merapat ke badan lawan. Anda melakukannya sambil menghindari tebasan/tusukan pedang. Jangan menjauh, karena Anda akan menjadi sasaran empuk.

Langkah kedua, dengan kedua tangan Anda tangkaplah salah satu lengan lawan. Satu tangan Anda memegang di sikunya, satu tangan lagi memegang di gagang pedang. Dengan teknik ini, selanjutnya Anda dengan mudah merampas pedang lawan. Ambil pedang lawan dengan melakukan teknik pelintiran pada tangan lawan sekaligus menjatuhkannya. Untuk contohnya, silakan putar video yang ada di atas artikel ini.

Dua langkah di atas merupakan salah satu teknik standar untuk melawan pedang Katana. Sebenarnya Anda juga bisa menggunakan teknik yang tidak standar. Misalnya setelah Anda menghindari tebasan/tusukan, Anda bisa mengambil posisi di belakang lawan dan melakukan teknik kuncian/cekikan pada lehernya. Ia tidak mungkin menggunakan pedangnya saat Anda berada tepat di belakangnya. Ada dua kemungkinan setelah itu. Ia tewas tercekik atau terpaksa melepaskan pedangnya supaya bisa melepaskan kuncian Anda. Bela diri itu sebenarnya luwes dan tidak sulit.

Demikianlah salah satu teknik standar untuk mengatasi lawan bersenjata pedang Katana. Mudah-mudahan ada gunanya bagi para pecinta bela diri.

05 Mei 2011

Beberapa Cara Menghindari Konflik Fisik

Pecinta Bela Diri juga merupakan Pecinta Perdamaian. Walaupun kita petarung yang terlatih baik, kita bertarung hanya karena terpaksa. Seandainya mungkin, semua pertarungan dihindari dan diselesaikan baik-baik.

Ada 2 alasan mengapa konflik fisik sebaiknya dihindari. Pertama, pertarungan fisik itu menyakiti badan. Setidak-tidaknya membuang napas dan tenaga yang tidak perlu. Kedua, pertarungan itu melanggar hukum.

Berikut adalah beberapa cara menghindari konflik fisik:

1. Mengabaikan
Mungkin Anda pernah mengalami hal ini. Ketika berjalan kaki, beberapa remaja sok jagoan mengejek Anda dan menantang berkelahi. Anda tak perlu melayani provokasi semacam ini. Toh walaupun Anda menang berkelahi, orang-orang takkan menyebut Anda jagoan. Malah Anda bisa dianggap sama bodohnya dengan mereka yang menantang Anda.

2. Masuk ke Dalam Ruangan
Ini metode yang sangat efektif untuk menghindari konflik. Ketika Anda melihat gejala pertarungan, Anda bisa masuk ke dalam ruangan dan mengunci pintu seandainya ada ruangan tersedia. Dinding ruangan akan menghalangi calon lawan untuk menyentuh badan Anda.

3. Membujuk Lawan
Tidak mungkin orang ingin berkelahi jika tidak ada yang membuatnya marah atau kesal. Bila Anda mengetahui hal tersebut, Anda bisa membujuk lawan. Bila itu salah Anda, Anda mestinya berjiwa besar dan meminta maaf. Bila tidak, katakanlah bahwa tindakan Anda tersebut tidak Anda maksudkan untuk membuatnya tersinggung.

4. Bertindak Tegas
Namun bila Anda sudah berbicara baik-baik dan lawan tampaknya masih memaksa untuk bertarung, ambillah tindakan tegas. Katakan," Maaf, saya tak ingin berkelahi" atau "Saya tak ingin membahasnya lagi" maupun kalimat tegas lainnya dan tinggalkanlah lawan. Tindakan tegas semacam ini akan mematahkan 'semangat' berkelahi lawan dan mencegah konflik fisik

5. Melarikan Diri
Bila Anda melihat bahaya, misalnya puluhan orang bersenjata ingin membunuh Anda, lebih baik Anda melarikan diri. Melarikan diri bukanlah tindakan pengecut, sebab hakikat bela diri hanyalah untuk membela diri. Bila sudah ada niat membalas atau menyakiti, itu bukan bela diri lagi namanya.
Selain itu, di mata hukum, bila Anda sudah melarikan diri dan dan tidak punya pilihan lain kecuali bertarung, barulah pembelaan diri Anda diterima di mata hukum. Hukum Indonesia menganjurkan untuk melarikan diri terlebih dahulu.

Demikianlah beberapa cara untuk menghindari konflik fisik. Mudah-mudahan ada gunanya bagi para pecinta bela diri.

20 April 2011

Sejarah Tinju

Kata Tinju adalah terjemahan dari kata Inggris "boxing" atau "Pugilism". Kata Pugilism berasal dari kata latin, pugilatus atau pinjaman dari kata yunani Pugno, Pignis, Pugnare, yang menandakan segala sesuatu yang berbentuk kotak atau "Box" dalam bahasa Inggrisnya. Tinju Manusia, kalau terkepal, berbentuk seperti kotak. Kata Yunani pugno berarti tangan terkepal menjadi tinju, siap untuk pugnos, berkelahi, bertinju. Dalam mitologi, bapak dan Boxing adalah Poliux, saudara kembar dari Castor, putera legendaris dari Jupiter dan Leda.

Perkembangannya
Pertandingan tinju yang pertama tercatat dalam sejarah adalah antara lain melawan Abel. Kitab mahabrata juga mencatat pertandingan-pertandingan tinju, hal mana mendahului pencatatan cerita-cerita perkelahian di antara bangsa Yunani, Romawi, dan Mesir. Petinju terkenal pertama berkebangsaan Yunani bernama Theagenes dari Thaos yang menjadi juara Olympic Games 450 Masehi. Ia melakukan pertandingan sebanyak 1.406 kali dengan menggunakan cetus sarung tinju yang terbuat dari besi. Kebanyakan dari lawan-lawan itu tewas ketika bertarung melawannya.
Meskipun boxing terkenal berabad-abad lamanya sebagai suatu bentuk hiburan, namun seorang Inggris yang bernama James Ping adalah James Broughton, juara britania, yang juga merupakan orang pertama yang menggunakan sarung tinju. Peraturan dan sarung tinju ini diperkenalkan pada tanggal 10 Agustus 1973.

(Sumber: www.myzavier.blogspot.com)

10 April 2011

Bertarung Bagaikan Air yang Mengalir

Seperti air yang mengalir, demikianlah ungkapan yang kita dengar ketika orang ingin menceritakan sesuatu yang alamiah dan berjalan dengan sendirinya. Ungkapan ini juga berlaku di dalam cabang-cabang olahraga, termasuk olahraga bela diri.

Di dalam latihan bela diri, Anda berlatih berbagai macam teknik. Misalnya teknik pukulan, tendangan, kuncian, patahan, bantingan, tangkisan, hindaran, dan sebagainya. Teknik ini dipelajari dengan sengaja, dan dilatih satu demi satu sebelum dirangkaikan. Memang di dalam latihan, teknik-teknik tampaknya dipaksakan dan tidak alamiah.

Tetapi ketika Anda bertanding atau bertarung, semuanya menjadi alamiah. Teknik-teknik itu akan keluar dengan sendirinya, tergantung situasi yang dihadapinya. Terangkai dengan baiknya, harmonis, dan bersatu-padu. Keluar sesuai dengan apa yang Anda latih selama ini. Semua keluar seperti dari alam bawah sadar Anda.

Konsep bertarung bagai air mengalir juga mengandung pengertian bahwa Anda tidak berpikir mengenai teknik apa yang ingin Anda keluarkan. Jika ia memukul, saya akan memakai teknik ini, misalnya. Tidak. Teknik keluar dan terangkai secara otomatis, sesuai jenis serangan lawan atau keadaannya. Teknik yang akan keluar itu berasal dari latihan-latihan yang telah Anda lakukan selama ini. Latihan untuk mengalamikan teknik-teknik yang semula Anda pelajari tidak secara alami.

Demikianlah konsep bertarung bagaikan air yang mengalir. Mudah-mudahan dapat dipahami dan berguna bagi para pecinta bela diri.

23 Februari 2011

Sejarah Singkat Tae Kwon Do

Pada masa lampau seni bela diri Taekwondo dikenal dengan sebutan “Subak”, “Taekkyon”, “Takkyon” maupun beberapa nama lainnya. Pada awal sejarah Semenanjung Korea, ada tiga suku bangsa atau kerajaan yang mempertunjukkan kontes bela diri sebagai bentuk persaingan satu sama lainnya. Ketiga kerajaan ini adalah Koguryo, Paekje, dan Silla. Semuanya melatih para ksatria, yang tergabung dalam kekuatan militer. Menurut catatan, kelompok ksatria muda yang terorganisir seperti Hwarangdo di Silla dan Chouisonin di Koguryo, menjadikan latihan bela diri sebagai salah satu subjek penting yang harus dipelajari.

Pada masa korea modern, saat Dinasti Chosun (Yi) berkuasa pada tahun 1392 sampai 1910 dan pada zaman penjajahan Jepang sampai tahun 1945, Subakhui dan Taekkyon (sebutan untuk Taekwondo pada masa itu) mengalami kemunduran dan tidak mendapat dukungan dari pemerintah yang memodernisasi tentaranya dengan senjata api. Dinasti Yi yang didirikan berdasarkan ideologi Konfusius, lebih mementingkan kegiatan kebudayaan daripada seni bela diri. Kemudian pada saat Raja Jungjo memerintah setelah invasi Jepang pada tahun 1952, pemerintah kerajaan membangun kembali pertahanan yang kuat dengan memperkuat latihan ketentaraan dan praktek seni bela diri.

Seiring dengan kemerdekaan Korea dari penjajahan Jepang, konsep baru tentang kebudayaan dan tradisi mulai bangkit. Banyak para ahli bela diri mendirikan perguruan bela diri. Dengan meningkatnya populasi dan hubungan kerja sama yang baik antar hubungan bela diri akhirnya diputuskan menyatukan berbagai nama seni bela diri mereka dengan sebutan Taekwondo pada tahun 1954.


Pada tahun 1972, Kuk Ki Won didirikan sebagai markas besar Taekwondo, hal ini menjadi penting bagi perkembangan Taekwondo ke seluruh dunia. Kejuaraan dunia Taekwondo yang pertama diadakan pada tahun 1973 di Kuk Ki Won, Seoul, Korea Selatan. Sampai saat ini kejuaraan dunia rutin dilaksanakan setiap 2 tahun sekali.

Pada 28 Mei 1973, The World Taekwondo Federation (WTF) didirikan, dan sekarang telah mempunyai lebih dari 160 negara anggota. Saat ini Taekwondo telah dipraktekkan oleh lebih dari 40 juta orang di seluruh penjuru dunia, angka ini masih terus bertambah seiring perkembangan Taekwondo yang makin maju dan populer.

(
Sumber: http://hi-in.facebook.com/topic.php?uid=114206531937&topic=10570)

18 Februari 2011

Titik-titik Fatal di Tubuh Manusia

Anda yang pernah belajar bela diri tentulah tidak asing lagi dengan titik-titik lemah di tubuh manusia. Titik-titik lemah ini bertebaran di tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Di antara titik lemah ini terdapat dua macam titik lagi, yakni titik khusus dan titik fatal.

Titik khusus ialah titik lemah yang merupakan titik syaraf, titik pembuluh darah, atau titik lemah suatu organ tertentu di dalam tubuh manusia yang hanya bisa diserang dengan teknik khusus. Misalnya titik pembuluh darah jantung yang diserang dengan totokan jari oleh aliran Dim Hsueh atau titik syaraf di bawah telinga yang diserang dengan satu jari oleh aliran Dim Ching (Ninjutsu). Titik khusus bila diserang dengan tepat umumnya berakibat kematian bagi si korban.

Sedangkan titik fatal ialah titik-titik lemah yang rentan berakibat fatal atau cedera bila diserang/dipukul. Tidak peduli lawan bagaimanapun besar dan beratnya pasti akan kesakitan bila terkena serangan di titik-titik ini. Serangan dengan tepat berakibat rasa sakit yang sangat atau cedera walaupun tidak mengakibatkan kematian. Titik-titik inilah yang akan kita bahas di dalam artikel ini.

Titik-titik dimaksud ialah mata, telinga, hidung, dagu, leher, ulu hati, dan organ vital.

Sebaiknya Anda menyerang titik-titik fatal ini hanya dalam keadaan tidak punya pilihan lain atau terpaksa. Hal ini karena berakibat cedera serius bagi lawan. Misalnya saja serangan pada mata mengakibatkan kebutaan. Anda tentu tidak mau menghadapi tuntutan hukum yang berat akibat membutakan orang lain. Kecuali Anda hendak dibunuh oleh pembunuh berdarah dingin, misalnya, baru tindakan ini dapat diterima.

Demikianlah titik-titik fatal yang ada di tubuh manusia. Sekali lagi saya mengingatkan hanya untuk keadaan terpaksa atau darurat. Ingatlah bahwa Anda selalu menghadapi konsekuensi hukum di dalam setiap tindakan pembelaan diri.