01 Agustus 2012

Bela Diri dan Pengendalian Diri

Selain mengajarkan kuat fisik dan pandai bertarung, bela diri juga mengajarkan sikap mental. Sikap itu antara lain adalah pengendalian diri, berani, disiplin, jantan, satria, dan lain-lain. Saat ini kita membahas sikap mental yang utama dan pertama di dalam bela diri, pengendalian diri.

Pengendalian diri secara umum artinya menahan diri dari melakukan sesuatu yang dianggap salah atau tidak baik. Di dalam konteks bela diri, artinya menahan diri dari bertarung karena sebab yang tidak prinsip. 

Tidak hanya bela diri yang mengajarkan pengendalian diri. Agama, moral, norma, dan  budaya juga mengajarkannya. Contohnya agama Islam mengajarkan pengikutnya untuk menahan diri supaya tidak makan-minum, bercampur dengan pasangan sah, berbuat dosa, dan hal-hal tidak baik lainnya saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang tengah kita jalani sekarang ini.

Mengapa pengendalian diri itu penting? Sebab pengendalian diri adalah pembeda antara orang yang berpendidikan bela diri dengan berandalan. Berandal akan bertarung jika ada pemicunya, apapun itu. Siswa bela diri tidak akan bertarung walaupun diejek dan diprovokasi, kecuali jika lawan sudah menyerang badannya dan tidak memberi pilihan lain.

Kemenangan tidak mesti berarti menang bertarung. Menang itu berarti berhasil menguasai keadaan. Tanpa bertarung sekalipun jika lawan sudah takluk dan tidak meneruskan konflik, Anda keluar sebagai pemenang.

Pengertian pengendalian diri sebenarnya tidak hanya berlaku sebelum pertarungan, tapi juga di saat pertarungan. Menghadapi lawan bersenjata, misalnya, tidak mesti sampai membunuhnya atau melukainya. Cukup dengan melucuti senjatanya dan membuatnya tidak berdaya, Anda sudah memenangkan pertarungan. Melukai lawan atau membunuhnya adalah tindakan pembelaan diri yang berlebihan, itu artinya Anda melanggar hukum. Kecuali jika situasinya mengharuskan melenyapkan lawan, misalnya Anda seorang tentara  di medan peperangan, baru Anda dibenarkan melenyapkan lawan.

Demikianlah konsep pengendalian diri menurut pendapat saya. Saya, Khairan Noor, penerbit blog ini mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya. Semoga amal ibadah kita diterima dan dibalas berlipat ganda oleh Allah swt, dan dosa-dosa kita diampuni-Nya.

14 Juli 2012

Tangkisan Luar dan Tangkisan Dalam

Menurut teknik lanjutannya, kita bisa mengkategorikan tangkisan menjadi dua. Tangkisan hidup dan tangkisan mati. Sebagaimana sudah kita bahas di dalam artikel sebelumnya. Kali ini kita mengkategorikan  tangkisan berdasar kategori lainnya.

Menurut arah gerakannya, tangkisan juga bisa dibagi dua. Tangkisan luar dan tangkisan dalam. Disebut tangkisan luar jika arah gerakannya dari dalam ke luar tubuh kita. Disebut tangkisan dalam jika arah gerakannya dari luar ke dalam tubuh kita.

Bila Anda masih kesulitan memahami pengertiannya, cobalah peragaan berikut. Mintalah seorang teman Anda menjadi teman latihan. Minta ia menyerang dengan pukulan lurus ke dada Anda. Tangkislah pukulannya dengan tangkisan samping tangan kanan.

Bila Anda menggerakkan tangan kanan Anda dari arah samping kiri Anda ke arah samping kanan Anda, berarti Anda menangkis ke arah luar. Inilah sebabnya disebut tangkisan luar. Sedangkan bila Anda menggerakkan tangan kanan Anda dari arah samping kanan Anda ke arah kiri Anda, berarti Anda menangkis ke arah dalam. Itulah sebabnya disebut tangkisan dalam.

Di dalam teorinya, semua bela diri memiliki kedua jenis tangkisan ini. Namun di dalam praktiknya, tangkisan luar-lah yang sering digunakan. Sebab tangkisan jenis ini sangat aman dari sisi pihak yang diserang.

Namun bukan berarti tangkisan dalam tidak punya keunggulan. Kelebihannya ada pada nilai taktis. Dengan tangkisan ini, Anda sangat mudah memasuki pertahanan lawan dan menyerang balik.

Demikianlah apa yang disebut dengan tangkisan luar dan tangkisan dalam. Mudah-mudahan ada gunanya bagi para pecinta bela diri.

03 Juli 2012

Tangkisan Hidup dan Tangkisan Mati

Tangkisan adalah salah satu keterampilan bela diri yang esensial. Kebanyakan teknik pembelaan diri menggunakan tangkisan, bila tidak menggunakan hindaran.

Tangkisan dapat dibagi dua kategori, tangkisan hidup dan tangkisan mati. Tangkisan hidup ialah tangkisan dengan telapak tangan terbuka. Sedangkan tangkisan mati ialah tangkisan dengan tangan terkepal.

Dikatakan tangkisan hidup karena dengan telapak tangan terbuka Anda bisa melanjutkannya dengan berbagai teknik. Anda bisa membalas dengan serangan pisau tangan. Anda bisa membalas dengan pukulan atau tendangan. Dan yang paling penting, Anda bisa menangkap pukulan/tendangan lawan untuk selanjutnya menggunakan teknik bantingan, kuncian, atau patahan. Jadi inilah sebabnya disebut tangkisan hidup

Sedangkan tangkisan mati disebut demikian karena nyaris tidak ada teknik yang bisa dikembangkan dengan tangkisan mati. Bila Anda menangkis dengan tangan terkepal, bisa dipastikan bahwa satu-satunya teknik balasan adalah pukulan, sikutan, atau tendangan. Jadi inilah alasannya disebut tangkisan mati.

Tangkisan hidup umumnya sering dipakai oleh Bela Diri Rapat. Sedangkan tangkisan mati sering dipakai oleh Bela Diri Renggang (untuk memahami pengertian Bela Diri Rapat dan Bela Diri Renggang, silakan baca artikel saya dahulu: Dua Kategori Ilmu Bela Diri).

Tujuan tangkisan hidup adalah untuk memudahkan penggunaan berbagai teknik, sedangkan tujuan tangkisan mati adalah untuk menyakiti tangan/kaki lawan yang digunakan untuk menyerang kita. Supaya lawan tidak mengulangi menyerang dengan anggota tubuhnya yang sakit tersebut.

Demikianlah dua kategori tangkisan menurut pendapat saya. Mudah-mudahan bisa dipahami dan berguna bagi para pecinta bela diri.

14 Juni 2012

Silat Suffian: Pertarungan Senjata Tajam Melawan Senjata Tajam



Di atas adalah peragaan Silat Suffian, senjata tajam melawan senjata tajam. Peragaan pertama, tangan kosong melawan pisau. Peragaan kedua, pisau melawan pisau. Peragaan ketiga, golok melawan golok.

Bila kita cermati, pada peragaan kedua teknik yang digunakan kebanyakan teknik langsung. Sedangkan pada peragaan ketiga, ada teknik tidak langsung. Juga kita lihat bahwa di sini ketiga kaidah pertarungan senjata tajam juga dikombinasikan langsung, tidak satu demi satu. Peragaan ini baik untuk memberikan gambaran bagaimana pertarungan senjata tajam yang terintegrasi.

Sebenarnya pertarungan senjata tajam Silat Suffian tergolong pada permainan pedang Silat Malaya. Di dunia ini ada 4 macam permainan pedang. Gaya Barat, Jepang, China, dan Malaya. 

Video di atas ditayangkan untuk keperluan hiburan dan informasi. Bila Anda ingin belajar, belajarlah dengan pelatih bela diri yang terpercaya. 

02 Juni 2012

Beberapa Macam Teknik Hindaran

Teknik Hindaran adalah teknik menghindari serangan lawan, sehingga serangan tersebut hilang begitu saja tanpa ditangkis atau ditangkap. Teknik ini ada di semua cabang bela diri.

Teknik Hindaran merupakan keterampilan yang esensial di dalam bela diri. Hal ini karena tidak semua serangan bisa ditangkis atau ditangkap. Misalnya ketika Anda diserang lawan dengan tendangan melayang. Atau ketika Anda ditebas dengan pedang Katana saat jarak Anda dan lawan jauh. Momen-momen semacam ini memerlukan keahlian menghindar yang baik.

Berikut adalah beberapa teknik hindaran yang lazim digunakan:

Hindaran Runduk, yaitu menghindari serangan lawan dengan cara merundukkan kepala. Ini digunakan untuk menghindari serangan lawan pada kepala.

Hindaran Condong, yaitu menghindari serangan lawan dengan mencondongkan kepala atau tubuh bagian atas. Ini digunakan untuk menghindari serangan pada kepala atau tubuh bagian atas.

Hindaran Langkah, yaitu menghindari serangan lawan dengan melangkahkan kaki selangkah. Baik melangkah ke samping, ke belakang, serong ke belakang, maupun serong ke depan. Di dalam praktiknya, hindaran ini sering dikombinasikan dengan rundukan atau condongan.

Hindaran Lompat/Angkat Kaki, yaitu menghindari serangan lawan dengan melompat/mengangkat kaki. Ini digunakan untuk menghindari serangan pada kaki seperti sapuan atau tebasan pedang pada kaki.

Hindaran Rebah, yaitu menghindari serangan lawan dengan merebahkan/menjatuhkan diri. Ini digunakan bila Anda diserang dari semua penjuru secara serentak. Jangan menggunakan hindaran ini bila Anda bukan seorang praktisi bela diri yang ahli dan tidak ahli bangun kembali dengan sangat cepat. Merebahkan diri berarti menempatkan diri dalam posisi yang sulit.

Hindaran Khusus, yaitu menghindari serangan lawan dengan teknik khusus. Misalnya salto, koprol, berjumpalitan di udara, dan lain-lain. Gunakanlah hindaran jenis ini hanya jika Anda sangat terlatih.

Demikianlah beberapa teknik hindaran yang lazim digunakan di dalam bela diri. Mudah-mudahan ada gunanya bagi para pecinta bela diri.

15 Mei 2012

Tiga Prinsip Memenangkan Pertarungan Bersenjata Tajam

Ada tiga macam senjata yang lazim digunakan di dalam pertarungan. Senjata tumpul, senjata tajam, dan senjata api. Kali ini kita membahas pertarungan senjata tajam melawan senjata tajam.

Senjata tajam banyak ragamnya. Pedang, golok, clurit, trisula, pisau, kerambit, dan lain-lain. Dan berbagai teknik telah dikembangkan di sini. Walaupun banyak teknik untuk menang, tidak pernah menyimpang dari tiga prinsip atau kaidah berikut ini.

Pertama, cara langsung. Yaitu mengalahkan lawan dengan cara menyerang langsung ke anggota badan yang fatal jika terkena serangan senjata tajam. Baik menyerang lebih dahulu atau sesudah menangkis/menghindari serangan lawan.

Kedua, cara tidak langsung. Yaitu mengalahkan lawan dengan cara menjatuhkan senjata lawan terlebih dahulu. Biasanya dilakukan dengan menebas tangan lawan yang memegang senjata saat ia melakukan serangan. Sesudah senjata lawan jatuh, kita dengan mudah mengalahkannya.

Ketiga, cara alternatif. Yaitu mengalahkan lawan dengan teknik lainnya. Misalnya dengan tiba-tiba menyapu kaki lawan hingga ia jatuh. Saat ia jatuh dan kehilangan posisi, kita bisa melanjutkan dengan serangan yang menentukan. Atau menggunakan tangan kita yang tidak memegang senjata untuk menangkap dan memelintir tangan lawan yang bersenjata. Saat ia terpelintir dan kehilangan posisi, kita bisa melanjutkan dengan serangan yang menentukan. 

Demikianlah tiga prinsip atau kaidah untuk memenangkan pertarungan bersenjata tajam. Mudah-mudahan menambah pengetahuan para pecinta bela diri.

01 Mei 2012

Karakteristik Bela Diri Berdasarkan Jenis Kuda-kuda

Berbagai bela diri tersebar di seluruh dunia. Beragam teknik sudah dikaji dan dikembangkan. Demikian pula dengan kuda-kuda. Berbagai macam kuda-kuda ada di dalam berbagai jenis bela diri.

Walaupun kuda-kuda banyak, pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori. Kategori pertama, kuda-kuda berat. Kategori kedua, kuda-kuda ringan.

Kuda-kuda berat adalah kuda-kuda yang lebar dan jauh jarak antara kedua kaki, dan biasanya salah satu atau kedua kaki membentuk siku. Tujuannya supaya tidak mudah dirobohkan. Karena lebar, menggunakan kuda-kuda ini tidak bisa bergerak cepat dan lincah.

Oleh karena itu, bela diri yang banyak menggunakan kuda-kuda berat tidak bergerak yang tidak perlu. Mereka suka mendekati lawannya dengan tujuan melumpuhkannya. Pukulan atau serangan cenderung dihadapi dan diatasi, dan mereka melumpuhkan lawan dengan satu/dua gerakan saja. Umumnya mereka ahli tangkap-menangkap dan juga ahli dalam teknik kuncian/pitingan, bantingan, dan patahan. Selain itu, bela diri yang banyak menggunakan kuda-kuda berat ahli dalam menghadapi lawan bersenjata dan duel satu lawan satu.

Kuda-kuda ringan ialah kuda-kuda dengan jarak kedua kaki dekat dan sempit, sehingga badan tampak tegak. Tujuannya supaya bisa bergerak cepat dan lincah.

Wataknya tidak suka diam. Pukulan atau serangan cenderung dihilangkan atau dihindari. Kesukaannya menjauh dari serangan kemudian membalas dengan pukulan/tendangan, menjauh lagi membalas lagi, dan seterusnya. Kecepatan dan kelincahan adalah ciri bela diri yang banyak menggunakan kuda-kuda ini. Mereka cenderung memperluas medan pertarungannya, dan biasanya kelabakan bila dimasuki pertahanannya.

Namun bela diri jenis ini juga kadang-kadang bertarung rapat dan menggunakan kuda-kuda yang siku, jika keadaan mengizinkan. Karena zaman sekarang tidak ada lagi bela diri yang masih orisinil.

Karena perkembangan zaman, kedua jenis bela diri ini sudah saling berasimilasi dan mempengaruhi. Wajar, karena bela diri jenis "martial art" sudah ada kurang lebih 1.500 tahun yang lalu. Waktu yang amat panjang untuk berkembang dan menerima pengaruh dari zaman, budaya, agama, norma, dan tentu saja bela diri lainnya.

Demikianlah dua karakteristik bela diri ditilik dari jenis kuda-kuda yang digunakannya. Mudah-mudahan ada gunanya bagi para pecinta bela diri.